Routing Statik

Sebuah router dapat mengenal jaringan remote (jarak jauh) melalui 2 cara :

  1. Manual
  2. Remote Network secara manual dimasukkan ke dalam tabel routing menggunakan routing statis
  3. Dinamis
  4. Remote network secara otomatis dipelajari menggunakan protokol routing dinamis

Gambar 1 memberikan contoh skenario routing statis. Gambar 2 memberikan contoh skenario routing dinamis menggunakan EIGRP.

Gambar 1. Skenario Routing Statik dan Default Route
Gambar 2. Skenario Routing Dinamik

Seorang administrator jaringan dapat secara manual mengkonfigurasi routing statis untuk mencapai jaringan tertentu. Tidak seperti protokol routing dinamis, routing statis tidak diperbarui secara otomatis dan harus dikonfigurasi ulang secara manual setiap kali topologi jaringan berubah.

Mengapa Menggunakan Routing Statik?

Routing statik menyediakan beberapa kelebihan dibandingkan routing dinamis, yaitu :

  • Routing statik tidak mengiklan pada jaringan sehingga keamanan lebih baik
  • Routing statik menggunakan lebih sedikit bandwidth daripada routing dinamik, tidak ada siklus CPU yang digunakan untuk menghitung dan berkomunikasi dengan router.
  • Jalur yang digunakan routing statik untuk mengirimkan data diketahui

Routing Statik memilki beberapa kerugian :

  • Membutuhkan waktu yang banyak untuk melakukan konfigurasi dan pemeliharaan
  • Dalam melakukan konfigurasi cenderung salah, khususnya pada jaringan yang besar.
  • Dibutuhkan intervensi administrator untuk memelihara perubahan informasi routing.
  • Tidak dapat menyesuaikan dengan baik pertumbuhan jaringan, pemeliharaan menjadi semakin rumit.
  • Membutuhkan pengetahuan yang lengkap keseluruhan jaringan untuk implementasi yang tepat.

Routing statik berguna untuk jaringan kecil dengan hanya satu jalur menuju jaringan luar. Routing statik menyediakan keamanan pada jaringan yang besar untuk tipe tertentu dari trafik atau link ke jaringan lain yang membutuhkan kontrol lebih.

Sangat penting untuk mengetahui bahwa routing statik dan dinamik tidak saling ekslusif. Sebaliknya kebanyakan jaringan menggunakan kombinasi dari routing dinamis dan routing statis. Ini mungkin terjadi pada router yang memiliki banyak jalur ke jaringan tujuan melalui routing statis dan routing dinamis.

Meskipun demikian, ingat bahwa nilai administrative distance (AD) adalah ukuran dari pilihan asal rute. Nilai AD untuk routing statik adalah 1. Oleh karena itu sebuah routing statik akan diutamakan dibandingkan routing dinamis lainnya, dimana routing dinamis memiliki nilai AD yang lebih tinggi.

Kapan menggunakan Routing Statis

Routing statis memiliki 3 kegunaan utama :

  1. Menyediakan kemudahan pemeliharaan tabel routing pada jaringan yang lebih kecil yang tidak diharapkan tumbuh secara signifikan.
  2. Routing untuk dan dari stub network (jaringan tepi). Stub network adalah jaringan yang diakses oleh router tunggal, dan router hanya memiliki satu neighboor (satu jaringan lain).
  3. Menggunakan sebuah default route tunggal untuk mewakili jalur menuju jaringan manapun yang tidak memiliki kecocokan yang lebih spesifik dengan router lain dalam tabel routing. Default route digunakan untuk mengirim trafik ke tujuan manapun melampaui router berikutnya.
Stub network dan Stub Router

Pada gambar memperlihatkan contoh koneksi stub network dan koneksi default route. Perhatikan pada gambar bahwa semua network yang terikat ke R1 hanya akan memiliki satu jalur/arah untuk mencapai tujuan lain, apakah ke network yang terikat pada R2, atau ke tujuan di luar R2. Hal ini berarti bahwa network 172.16.3.0 adalah sebuah stub network dan R1 adalah sebuah stub router.

Pada gambar diatas Routing Statik dapat dikonfigurasi pada R2 untuk mencapai LAN R1. Selain itu karena R1 hanya memiliki satu jalur untuk mengirimkan trafik lokal, maka default route dapat dikonfigurasi pada R1 untuk menuju ke R2 sebagai hop berikutnya untuk menuju jaringan yang lain.

Seperti yang terlihat pada gambar. Routing statik sering digunakan untuk menghubungkan jaringan yang spesifik atau menyediakan sebuah Gateway of Resort (gerbang jalan terakhir) untuk sebuah stub network. Routing statik juga digunakan untuk :

  • Mengurangi jumlah router advertised (iklan) dengan meringkas beberapa jaringan yang berdkatan (continguous network) sebagai satu routing statik
  • Membuat sebuah routing cadangan pada waktu routing utama bermasalah.

Beberapa Jenis routing statik antara lain :

  1. Routing Statik Standar
  2. Default Routing
  3. Summary Static Route
  4. Floating Static Route

1. Routing Statik Standar

Routing statik digunakan ketika menghubungkan ke jaringan lain yang lebih spesifik. Pada gambar diperlihatkan bahwa R2 dapat dikonfigurasi dengan routing statis untuk mencapai stub network 172.16.3.0/24.

Terhubung ke Stub Network

Catatan : Pada gambar yang disorot adalah stub network, tetapi faktanya routing statik daat digunakan untuk terhubung ke jaringan manapun.

2. Default Route

Default route adalah sebuah routing yang memiliki paket yang cocok untuk semua dan digunakan oleh router jika paket tidak cocok dengan lainnya. Routingnya lebih spesifik pada tabel routing. Default route dapat dipelajari secara dinamis atau dikonfigurasi secara statis. Default route adalah routing statis sederhana dengan alamat tujuan 0.0.0.0/0. Mengkonfigurasi default route menciptakan sebuah gateway of last resort.

Terhubung ke Stub Router

Default route digunakan untuk :

  • Ketika rute pada tabel routing tidak cocok dengan paket IP address tujuan. Dengan kata lain, ketika kecocokan yang lebih spesifik tidak ditemukan. Umumnya digunakan ketika terhubung ke router yang paling tepi pada jaringan ISP.
  • Ketika sebuah router memiliki hanya satu router yang terhubung dengannya. Pada situasi ini, router dikenal sebagai sebuah stub router.

3. Summary Static Route

Untuk mengurangi jumlah entri tabel routing, sejumlah routing statik dapat diringkas ke dalam sebuah routing statik tunggal, dengan syarat :

  • Jaringan tujuan berdekatan dan dapat diringkas ke dalam sebuah alamat tunggal
  • Semua multiple routing statik yang menggunakan exit interface yang sama atau alamat IP next hop yang sama,
Penggunaan summary static route

Pada gambar, R1 akan membutuhkan 4 routing statik yang terpisah untuk mencapai jaringan 172.20.0.0/16 ke 172.23.0.0/16. Sebagai gantinya sebuah summary static route dapat dikonfigurasi dan tetap menyediakan koneksi jaringan tersebut.

4. Floating Static Route

Floating static route adalah routing statik yang digunakan untuk menyediakan jalur cadangan ke routing statis/dinamis utama ketika terjadi gangguan jalur utama. Floating static route hanya digunakan ketika rute utama tidak tersedia.

Untuk menyelesaikan hal ni, floating static route dikonfigurasi dengan nilai administrative distance yang lebih tinggi daripada routing utama. Nilai administrative disttance mewakili kepercayaan sebuah rute. Apabila tersedia beberapa jalur menuju ke tujuan, router akan memilih jalur yang memiliki nilai administrative distance yang lebih rendah.

Sebagai contoh, asumsikan bahwa administrator ingin membuat floating static route sebagai cadangan routing dinamis EIGRP. Floating static route harus dikonfigurasi dengan nilai administrative distance yang lebih tinggi daripada EIGRP. EiGRP memiliki nilai AD 90. Jika floating static route dikonfigurasi dengan AD 95, routing dinamis EIGRP akan dipilih oleh router daripada floating static route. Jika routing dinamik EIGRP gagal, maka floating statik route digunakan untuk mengganti jalur.

Konfigurasi Rute backup

Pada gambar, router cabang khusus meneruskan semua trafik ke router HQ melewati link privat WAN. pada contoh ini router bertukar informasi routing menggunakan EIGRP. Sebuah floating static route dengan administrative distance 91 atau lebih tinggi dapat dikonfigurasi untuk melayani rute cadangan. Apabila link privat WAN gagal, dan routing EIGRP menghilang dari tabel routing, router memilih floating static route sebagai jalur terbaik untuk mencapai LAN HQ.

Perintah ip route

Routing statik dikonfigurasi menggunakan “ip route” pada global configuration command. Sintaks dasar untuk peritah tersebut sebagai berikut :

router(config)# ip route network_address subnet_mask ip_address | exit_interface

Parameter yang dibutuhkan untuk mengkonfigurasi routing statik :

  • network_address : network address tujuan dari remote network ditambahkan ke dalam tabel routing. Seringkali merujuk ke nilai prefix.
  • subnet_mask : subnet mask dari remote network ditambahkan ke tabel routing. Subnet mask dapat diubah untuk meringkas sekelompok jaringan.
  • ip address : IP address dari koneksi router yang digunakan untuk meneruskan paket ke tujuan remote network. Pada umumnya merujuk sebagai next hop (hop berikutnya).
  • exit_interface : interface keluar yang digunakan untuk meneruskan paket ke hop berikutnya (next hop).

Parameter distance digunakan untuk membuat floating static route dengan mengatur administrative distance lebih tinggi dari ADD routing dinamik.

Next-Hop Option

Gambar 1. Verifikasi tabel routing R1
Gambar 2. Verifikasi tabel routing R2
Gambar 3. Verifikasi tabel routing R3

Perhatikan, gambar diatas memperlihatkan tabel routing dari R1, R2 dan R3. Perhatikan bahwa setiap router yang di entry hanya untuk jaringan yang terhubung langsung dan mereka terhubung ke alamat lokal. Router tidak memiliki pengetahuan apapun tentang rute jaringan lain.

Sebagai contoh : R1 tidak memiliki pengetahuan dari jaringan

  • 172.16.1.0/24 – LAN pada R2
  • 192.168.1.0/24 – network dari R2 ke R3
  • 192.168.2.0/24 – LAN pada R3
Gambar 4

Gambar 4 memperlihatkan sebuah keberhasilan ping dari R1 ke R2. Gambar 5 memperlihatkan sebuah kegagalan ping ke LAN R3. Hal ini terjafi karena R1 tidak memiliki entri di tabel routing untuk jaringan LAN R3.

Gambar 5

Ada 3 cara untuk menambahkan parameter next hop pada perintah routing statik :

Related Articles

Responses